Kidung Penantian
barisan kata ini aku tujukan tuk seorang ikhwan
serpihan rasa ini hanya untuknya
yang masih dalam tanya…
“Kidung Penantian”
percik-percik rindu menerpa hati yang merayu
menggoda angan yang mencumbu syahdu
akulah pemilik rasa itu,
rasa yang mampu menyeret kesadaranku
merembesi serat-serat ruang dan waktu
tak usah cemas menggelayutimu
aku masih sanggup mengendalikan, tanpa harus membunuhnya
aku bisa merawat, tanpa harus membesarkannya
inilah cinta sederhana, dari orang sederhana
lihatlah..
musim semi telah tiba
bunga-bunga cinta bermekaran. tersenyum, menyapa hati yang kasmaran
dengarlah…
bisik rerumputan di pelataran
yang inginkan,
agar kau dan aku menjadi kita
lalu bersama, memadu jalinan suci penuh berkah
biar ku renda hari bersama rindu
sembari menunggumu di batas waktu
jemariku tak kan pernah lelah merangkai untaian kasih untukmu
penaku tak kan pernah kering menuliskan syair cinta buatmu
seperti burung yang tak pernah jemu menyenandungkan lagu rindu untuk kekasihnya
tak kan ada hentinya,
hingga kau menuntunku menuju nirwana
ah, bumi ini terlalu sempit untuk kita nikmati berdua
hidup ini terlalu singkat untuk kita miliki selamanya
aku ingin kau tahu
untukmu, ada sebentuk cinta
yang selalu ku jaga
agar tetap suci tak ternoda
nanar mataku menyorot pendar bulan yang kian memudar
wajahnya terlihat pucat
sepucat bebintang yang kini sekarat
sementara desau angin tersedu, menangis pilu
menemaniku, yang terkurung di penjara sang waktu
biarpun jiwa merintih dan langkah tertatih
tak letih, ku kejar bayangmu yang tak bertepi
dan malam pun semakin ringkih
tapi, masih terlalu pagi untuk bangun dari mimpi
wahai, kau…
yang merampas segenap perhatian
wahai, kau…
yang mampu nyalakan lentera inspirasi
buatku, kau tetap menjadi misteri
aku kan tetap disini menantimu
Tuhan, adakah dia peduli
akan semua rasa ini?