~ Cha ~ Only

Just a part of my life, catatan-catatan kecil dalam hidupku yang tersusun dalam lembaran-lembaran digital

Dimana Cantiknya Seorang Muslimah

Filed under: Religion — cha2mediana at 6:25 am on Wednesday, September 24, 2008

Di Mana Cantiknya Seorang Muslimah?

Mungkin pada sepasang matanya yang hening yang selalu menjeling tajam

atau yang kadang kala malu-malumemberikan kerlingan manja.

Boleh jadi pada bibirnya yang tak jemu-jemu menebar senyuman manis,

atau yang sekali-sekali memberikan kecupan mesra di dahimu, juga ayah, suami dan pipi munggil anak-anak.

Atau mungkin juga pada helai tawanya yang gemersik

Dan suara manjanya yang boleh melembut sekaligus melembutkan perasaan.

Sejuta perkataan belum cukup untuk menceritakan kecantikan perempuan.

Sejuta malah berjuta-juta kali ganda perkataan pun masih belum cukup

untuk mendefinisikan tentang keindahan perempuan.

Kitalah perempuan itu.

Panjatkan kesyukuran kehadirat Tuhan karena menjadikan kita perempuan dan memberikan keindahan-keindahan itu.

Namun, betapa pun dijaga, dipelihara, dibelai dan ditatap di hadapan cermin saban waktu, tiba masanya segalanya akan pergi jua.

Wajah akan suram, mata akan kelam. Satu saja yang tidak akan dimamah usia, sifat keperempuanan yang dipupuk dengan iman dan ibadah.

Anda ingin lebih cantik dan menarik

# Jadikanlah Ghadhdul Bashar (menundukkan pandangan)sebagai “hiasan mata” anda, nescaya akan semakin bening dan jernih.

# Oleskan “lipstik kejujuran” pada bibir anda, niscaya akan semakin manis.

# Gunakanlah “pemerah pipi” anda dengan kosmetik yangterbuat dari rasa malu yang dibuat dari salon Iman.

# Pakailah “sabun Istighfar” yang menghilangkan semuadosa dan kesalahan yang anda lakukan.

# Rawatlah rambut anda dengan “Selendang Islami” yang akan menghilangkan pandangan lelaki yang membahayakan.

# Hiasilah kedua tangan anda dengan gelang Tawadhu’dan jari-jari anda dengan cincin Ukhuwah.

# Sebaik-baiknya kalung anda adalah kalung “kesucian”.

# Bedaklah wajah anda dengan “air Wudhu” niscaya akan bercahaya di akhirat.

Kidung Penantian

Filed under: my self — cha2mediana at 5:24 am on Monday, September 22, 2008  Tagged

barisan kata ini aku tujukan tuk seorang ikhwan
serpihan rasa ini hanya untuknya
yang masih dalam tanya…

“Kidung Penantian”
percik-percik rindu menerpa hati yang merayu
menggoda angan yang mencumbu syahdu
akulah pemilik rasa itu,
rasa yang mampu menyeret kesadaranku
merembesi serat-serat ruang dan waktu
tak usah cemas menggelayutimu
aku masih sanggup mengendalikan, tanpa harus membunuhnya
aku bisa merawat, tanpa harus membesarkannya
inilah cinta sederhana, dari orang sederhana
lihatlah..
musim semi telah tiba
bunga-bunga cinta bermekaran. tersenyum, menyapa hati yang kasmaran
dengarlah…
bisik rerumputan di pelataran
yang inginkan,
agar kau dan aku menjadi kita
lalu bersama, memadu jalinan suci penuh berkah
biar ku renda hari bersama rindu
sembari menunggumu di batas waktu
jemariku tak kan pernah lelah merangkai untaian kasih untukmu
penaku tak kan pernah kering menuliskan syair cinta buatmu
seperti burung yang tak pernah jemu menyenandungkan lagu rindu untuk kekasihnya
tak kan ada hentinya,
hingga kau menuntunku menuju nirwana
ah, bumi ini terlalu sempit untuk kita nikmati berdua
hidup ini terlalu singkat untuk kita miliki selamanya
aku ingin kau tahu
untukmu, ada sebentuk cinta
yang selalu ku jaga
agar tetap suci tak ternoda
nanar mataku menyorot pendar bulan yang kian memudar
wajahnya terlihat pucat
sepucat bebintang yang kini sekarat
sementara desau angin tersedu, menangis pilu
menemaniku, yang terkurung di penjara sang waktu
biarpun jiwa merintih dan langkah tertatih
tak letih, ku kejar bayangmu yang tak bertepi
dan malam pun semakin ringkih
tapi, masih terlalu pagi untuk bangun dari mimpi

wahai, kau…

yang merampas segenap perhatian
wahai, kau…

yang mampu nyalakan lentera inspirasi
buatku, kau tetap menjadi misteri

aku kan tetap disini menantimu
Tuhan, adakah dia peduli
akan semua rasa ini?

Rahasia Air Mata Wanita

Filed under: Religion — cha2mediana at 5:15 am on Monday, September 22, 2008

Suatu ketika, seorang anak bertanya kepada ibunya,
“Ibu, mengapa ibu menangis?” Ibunya menjawab, “Sebab ibu adalah perempuan, nak.”
“Saya tak mengerti ibu,” kata si anak.
Ibunya hanya tersenyum dan memeluknya erat.
“Nak, kau memang tak akan mengerti…”
Kemudian si anak bertanya kepada ayahnya. “Ayah, mengapa ibu menangis?”
“Ibumu menangis tanpa sebab yang jelas,” sang ayah menjawab.
“Semua perempuan memang sering menangis tanpa alasan.”
Si anak membesar menjadi remaja, dan dia tetap terus bertanya-tanya, mengapa perempuan menangis? Hingga pada suatu malam, ia bermimpi dan bertanya kepada Tuhan,
“Ya Allah, mengapa perempuan mudah menangis?”
Dalam mimpinya ia merasa seolah mendengar jawapannya:
“Saat Ku ciptakan wanita, Aku membuatnya menjadi sangat utama. Kuciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya, walaupun juga bahu itu harus cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tertidur.
“Kuberikan wanita kekuatan untuk dapat melahirkan bayi dari rahimnya, walau kerap berulangkali menerima cerca dari si bayi itu apabila ia telah membesar.
“Kuberikan keperkasaan yang akan membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah saat semua orang sudah putus asa.
“Ku berikan kesabaran jiwa untuk merawat keluarganya walau dia sendiri letih, walau sakit, walau penat, tanpa berkeluh kesah.
“Kuberikan wanita perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya dalam kondisi dan situasi apapun. Walau acapkali anak- anaknya itu melukai perasaan dan hatinya. Perasaan ini pula yang akan memberikan kehangatan pada anak-anak yang mengantuk menahan lelap. Sentuhan inilah yang akan memberikan kenyamanan saat didekap dengan lembut olehnya.
“Kuberikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya melalui masa- masa sulit dan menjadi pelindung baginya. Sebab bukannya tulang rusuk yang melindungi setiap hati dan jantung agar tak terkoyak.
“Kuberikan kepadanya kebijaksanaan dan kemampuan untuk memberikan pengertian dan menyedarkan bahwa suami yang baik adalah yang tak pernah melukai isterinya. Walau seringkali pula kebijaksanaan itu akan menguji setiap kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap berdiri sejajar, saling melengkapi dan saling menyayangi.
“Dan akhirnya, Kuberikan ia air mata, agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus kepada wanita, agar dapat ia gunakan bila masa pun ia inginkan.
Ini bukan kelemahan bagi wanita, kerana sebenarnya air mata ini adalah “air mata kehidupan.”

Semoga Allah SWT menjadikan air mata yang jatuh di sudut-sudut mata kita adalah air mata yang berharga dipandangan-Nya, hingga dapat membersihkan hati yang pekat ini untuk mudah disusupi cahaya Ilahi Rabbi. Semoga air mata ini kelak tidak menjadi tetesan darah karena letihnya kita berteriak dan mengetuk pintu surga yang telah tertutup rapat setelah pengadilan itu nanti. Wallahu alam